Analisis Kondisi Gelombang Saat KM Virgo Transport 8 Hilang Kontak

Ilustrasi. (foto: antara/mistar)
Jakarta, MISTAR.ID - Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Widodo Setiyo Pranowo, memaparkan hasil analisis kondisi gelombang laut ketika KM Virgo Transport 8 mengalami insiden di perairan Laut Jawa.
Berdasarkan kajian yang dilakukan, kondisi laut di sekitar lokasi kejadian memang bergelombang. Namun, tinggi gelombang saat itu masih tergolong sedang dan tidak masuk dalam kategori ekstrem.
"Tinggi gelombang signifikan tercatat sekitar 1,56 meter, dengan periode sekitar enam detik. Dalam klasifikasi keselamatan pelayaran yang digunakan dalam kajian, nilai tersebut termasuk kategori sedang (1,25-2,50 meter)," ujar Widodo dalam keterangannya dilansir, Rabu (16/9/2026).
Ia menjelaskan, kategori tinggi dimulai dari tinggi gelombang 2,50 meter, sedangkan kategori sangat tinggi berada pada 4 meter.
Widodo menyebut sekitar 96 persen tinggi gelombang pada malam kejadian berasal dari gelombang yang dibangkitkan angin lokal, bukan swell yang bergerak dari wilayah yang lebih jauh.
"Dari karakteristik gelombang dan periodenya, kecepatan angin permukaan diperkirakan sekitar 6,4-8,3 meter per detik atau 12-16 knot, yang berada pada kisaran Beaufort 4-5," katanya.
Menurut Widodo, arah gelombang ketika kejadian berasal dari tenggara-timur atau sekitar 122 derajat. Secara geometris, gelombang tersebut menerpa kapal dari sisi samping atau dikenal sebagai beam seas. Situasi tersebut dapat membuat kapal mengalami gerakan oleng secara berulang.
Berdasarkan analisis dinamika kapal, periode gelombang diperkirakan berada pada kisaran 5,66-6,47 detik. Sementara itu, kapal dengan panjang sekitar 119 meter dan lebar 21 meter memiliki periode alami oleng sekitar 11-18 detik berdasarkan parameter stabilitas yang digunakan dalam kajian.
Perbedaan antara kedua periode tersebut menunjukkan tidak terdapat penguatan gerakan oleng akibat resonansi dalam skenario yang dianalisis.
"Dengan parameter kajian yang tersedia, kemiringan kapal akibat gelombang diperkirakan sekitar 5,9 derajat pada kondisi umum dan 11,2-11,9 derajat pada pembebanan gelombang tertinggi," jelas Widodo.
Ia menambahkan, kontribusi angin terhadap kemiringan kapal diperkirakan kurang dari 0,5 derajat.
Angka tersebut masih berada di bawah ambang sekitar 25 derajat yang dalam kajian digunakan sebagai indikasi awal masuknya air melalui bukaan geladak. Nilai tersebut juga jauh di bawah kisaran 50-60 derajat yang dikaitkan dengan hilangnya kemampuan kapal untuk kembali ke posisi tegak.
Selain mengkaji kondisi gelombang, penelitian tersebut juga menghasilkan sejumlah temuan yang dapat mendukung proses pencarian. Widodo menyebut komponen hanyut Stokes yang ditimbulkan oleh gelombang diperkirakan menyumbang rata-rata 41,2 persen terhadap total arus permukaan.
Menurutnya, prakiraan pergerakan benda hanyut yang tidak memasukkan komponen gelombang berpotensi menghasilkan perkiraan lintasan yang berbeda. Arus di sekitar lokasi kejadian juga disebut mengalami perubahan arah mengikuti siklus pasang surut sekitar 24 jam.
Karena itu, kondisi tersebut perlu diperhitungkan ketika area pencarian diperbarui dari satu siklus ke siklus berikutnya. Widodo juga menyebut kedalaman laut di titik kejadian diperkirakan sekitar 27 meter.
"Kondisi kedalaman tersebut memungkinkan survei bangkai kapal menggunakan multibeam echosounder, side-scan sonar, remotely operated vehicle (ROV), maupun penyelaman, sesuai prosedur dan kewenangan pihak yang melakukan pencarian serta penyelidikan," pungkasnya.
KM Virgo Transport 8 dilaporkan hilang kontak di perairan Laut Jawa, Minggu (13/9/2026) sekitar pukul 02.00 Wita. Kapal tersebut sebelumnya berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin, Sabtu (12/9/2026).
KM Virgo Transport 8 disebut membawa 243 orang yang terdiri atas penumpang, awak kapal, dan kru.
Hingga Selasa (15/9/2026), sebanyak 114 orang dari total 243 orang di kapal telah ditemukan. Sebanyak 108 orang ditemukan dalam kondisi selamat, sedangkan enam orang meninggal dunia. Sementara itu, 129 orang lainnya masih dalam proses pencarian.






































